Rubah Narasi dari Keterbatasan Menjadi Berdaya

Rubah Narasi dari Keterbatasan Menjadi Berdaya

Banyak anak disabilitas tumbuh dengan narasi keterbatasan. Label "tidak bisa" begitu melekat bagi mereka. Bukan semata karena kondisi yang mereka miliki, tetapi karena orang-orang disekitar terlalu cepat membantu, mengambil alih, dan cepat menyimpulkan. Sehingga kita tidak sadar rasa sayang, rasa ingin melindungi berubah menjadi pembatasan.

Setiap tahun dunia memperingati International Day of Persons with Disabilities. Pada hari itu kita berbicara tentang kesetaraan, akses, dan hak yang sama. Namun setelah lewat tanggal tersebut, apakah cara kita memperlakukan orang disabilitas akan tetap sama?

Nyatanya, perubahan tidak dimulai dari materi seminar atau video singkat di sosial media yang kita lihat. Perubahan dimulai dari meja makan, dari ruang keluarga, dari kalimat-kalimat kecil dan pelukan hangat untuk memberikan mereka ruang kepercayaan, bahwa mereak mampu dan berdaya.


Foto: Keluarga besar @rumahmans_sumbar

Sumber: Instagram @official_vino_channel


Padahal, setiap anak disabilitas belajar melalui proses mencoba, gagal, kemudian mencoba kembali. Kemandirian pada anak disabilitas adalah sesuatu yang harus diupayakan dari memberikan ruang kepercayaan sejak dini.


Mari kita ubah cara kita memperlakukan mereka, mulai hari ini. Tahan diri untuk tidak selalu membantu. Beri mereka kesempatan menyelesaikan tugasnya sendiri, meski lebih lama, meski tidak sempurna. Karena dari proses itulah tumbuh rasa mampu.


Jangan tunggu momen peringatan tahunan untuk berbicara tentang kesetaraan. Praktikkan di rumah, di sekolah, dan di lingkungan sekitar. Gunakan kata-kata yang menguatkan, bukan yang meragukan. Hadir sebagai pendukung, bukan pengambil alih.


Sekarang, giliran kita mengambil peran. Berikan ruang, berikan waktu, dan berikan kepercayaan. Karena ketika kita berhenti membatasi, di situlah mereka mulai membuktikan bahwa mereka bisa.